Setelah nyaris dua jam menumpang kereta Jakarta-Rangkasbitung ditambah perjalanan satu setengah jam dengan berganti angkot yang membawa kami ke Desa Cilentung, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang via Pertigaan Mengger (arah ke Labuan dari Pandeglang) dan Pasar Pari, di pos masuk ke Gunung Pulosari, kami disambut dengan sebuah plang:  Dilarang Mendaki Gunung Pulosari.

“Sudah hampir setahun ada larangan mendaki Gunung Pulosari, tetapi masih ada saja pendaki yang bandel naik diam-diam” kata seorang warga yang melintas. Pertengahan November 2018 lalu, 6 mahasiswa asal Serang sempat hilang ketika (ternyata) diam-diam mendaki dari sisi lain. Syukurlah, mereka selamat.

Beberapa informasi warga hari itu (20/4/19) menyebutkan, jalur pendakian ditutup karena ada potensi longsor. Demikian pula, kami tidak diperbolehkan naik ke Curug Putri dan Curug Sawer untuk alasan keamanan. Baiklah, niat hati untuk menyambangi kawah Gunung Pulosari terpaksa ditunda dulu. Sebagai gantinya, kami menjelajahi daerah sekitar Gunung Pulosari untuk melihat jejak peradaban di masa lampau.